KOMPAS Minggu, 16 Oktober 2005
Retrofilia ala White Shoes & The Couples Company
FRANS SARTONO
Kelompok White Shoes & The Couples Company muncul di belantika musik Indonesia dengan membawa retrofilia atau kecintaan pada sesuatu yang berbau masa lalu. Cita suara (sound), lirik lagu, sampai kemasan album mereka gali dari zaman silam.
White Shoes, kita singkat saja demikian, menyodorkan retrofilia lewat album bertitel nama grup White Shoes & The Couples Company terbitan Aksara Records/Universal Music Indonesia.
Mereka menghadirkan atmosfer musik yang mengingatkan pada musik pop Indonesia era akhir 1970-an atau awal 1980-an. White Shoes diawaki ”anak-anak” hari ini yang rata-rata kelahiran awal 1980-an.
Mereka adalah Aprilia Apsari atau Sari sebagai vokalis, Yusmario (gitar akustik), Saleh (gitar elektrik), Ricky Surya Virgana (bas, cello), Aprimela Prawidiyanti (piano, biola), dan John Navid (drum).
Mereka adalah mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Musik mereka lahir dari kegemaran pada lagu lama yang disimak dari film Tiga Dara produksi era 1950-an, film Badai Pasti Berlalu, Ali Topan Anak Jalanan, sampai album-album Chrisye pada akhir 1970-an.
Lagu Windu & Defrina atau Brother John dari White Shoes mengingatkan pada lagu dalam album Badai Pasti Berlalu seperti Cintaku, juga komposisi instrumental ECY yang populer akhir 1970-an. Suara vokalis Sari pada lagu Untuk Cita mengingatkan pada gaya nyanyi Tika Bisono dengan suara desahnya. Sari mengakui lagu tersebut memang diinspirasi lagu Pagi yang dipopulerkan Tika awal 1980-an.
Untuk latar vokal, mereka sering menggunakan silabel tanpa makna model ”papa- ra-ra- pa-pap..!” . Gaya demikian ”wajib” dibawakan oleh apa yang pada era 1970-an disebut sebagai ”vokal grup”.
Pilihan cita suara gitar yang flat dan polos pada lagu seperti Simple Overture terkesan sebagai milik ”radio days”, zaman ketika radio menjadi primadona pada era 1950-an.
Rasa zaman radio itu terasa kuat pada Senja. Lagu itu seperti diperdengarkan dari radio yang dipancarkan lewat gelombang pendek atau short wave (SW) yang sayup-sayup—seperti terdengar dari radio tetangga sebelah. Lirik lagu Senja juga bersemangat retro. Simak bait awal lagu: Anakku sayang jangan bersedih/ Esok kan ada hari yang lain/ Puspa kan mekar…/ Sinilah sini, duduk dekatku/ Baring di atas pangkuan ibu/ Ayah kan datang membawa lukisan….
Lirik lagu itu seperti tertiup dari suatu masa dengan lanskap sosial keluarga yang hangat pada masa lalu. Itu sebuah masa ketika sang ibu mengasuh anak dan kedatangan sang ayah menjadi penghiburan bagi keluarga. Lagu berjenis lullaby alias nina bobo semacam itu kini jarang dinyanyikan orang karena kini anak-anak tidur dengan MTV.
Lagu Top Star juga dibuat dengan semangat retro. Lagu ini bertutur tentang situs hiburan masa lalu, yaitu Jaya Pub di Jakarta. Dalam lirik disebut-sebut soal Tancho, minyak rambut yang banyak digunakan pria muda awal 1970-an yang ingin tampil klimis: ”Kemeja warna terang jadi andalan/Minyak wangi dan Tancho kau gunakan/Dengan atribut lengkap menuju ke Jaya Pub/ Berharap jumpa artis Ibu Kota di sana…”
Kemasan visual album juga digarap dengan gaya masa lalu. Personel bergaya dengan pakaian model baheula. Dua personel perempuan menggunakan rok terusan. Sedangkan empat awak pria mengenakan hem lengan panjang warna terang lengkap dengan dasi, plus kacamata lebar ala Elton John yang awal 1970- an disebut sebagai kacamata capung. ”Itu pakaian milik orangtua. Kami juga hunting (berburu) pakaian bekas di Senen,” kata Sari
Album dilengkapi gambar tempel yang sering digunakan anak sekolah 1970-an. Tersebutlah gambar tempel bertuliskan slogan ”Jelek2 Milik Sendiri” yang biasa tertempel di motor atau sepeda.
”Tiga Dara” Retrofilia White Shoes bermula dari Sari yang terpesona pada film Tiga Dara karya Usmar Ismail (1956). ”Tiga Dara itu mengubah diri saya. Sejak itu saya menyukai sesuatu yang bergaya vintage,” kenang Sari.
Pengembaraan ke masa lalu mempertemukan Sari dengan penyanyi jazz Billie Holiday dan Ella Fitzgerald. Ia juga mengenal penyanyi pop era 1960-an seperti Nancy Sinatra sampai penyanyi Inggris Petula Clark yang dikenal di Indonesia dengan lagu seperti Kiss Me Goodbye dan This is My Song. Ia lalu merambat pada era 1970-an dan menyukai soundtrack film Badai Pasti Berlalu, Cinta Pertama, dan musik pop akhir 1970-an dari Guruh dan Chrisye.
Ketika mulai membuat lagu sekitar tiga tahun lalu, mereka baru menyadari akan rasa vintage itu. Di telinga rekan-rekannya, cara nyanyi Sari terdengar ”seperti penyanyi zaman dulu”. Mereka kemudian menyesuaikan dengan gaya zaman dulu Sari. ”Lagu Sari yang tenang dan merdu menginspirasi saya untuk pakai sound elektrik yang berbau akustik,” kata gitaris Saleh.
Gaya retro White Shoes muncul sebagai bagian dari retrofilia para awaknya. Mereka tidak melakukannya dengan kesadaran pasar. Di pasar telah ada Naif dan Mocca yang disebut-sebut membawa rasa retro. Membuat album pun semula dilandasi keinginan untuk mendokumentasi. Belakangan pelaku industri musik melihat potensi jual White Shoes.
”Ini bukan kesadaran untuk menjual, tapi karena kesukaan,” kata Sari
menegaskan. Kesukaan itu juga banyak penyukanya. Penyuka yang bisa dibaca sebagai pasar.
Retrofilia ala White Shoes & The Couples Company – Minggu, 16 Oktober 2005
_________
PDF Archive :
Leave a comment